Tuesday, October 9, 2018

Realita

Titik demi titik air menetes membasahi pipi
Gores demi gores membuka mengalirkan darah
Asa demi asa hilang terbawa angin dan suasana
Apa mungkin ini yang sering orang sebut sebagai depresi?
Perasaan tertekan, takut, dan kalut semua tercampur menjadi satu
Siapa lagi yang bisa di harapkan?
Siapa lagi yang bisa dijadikan sandaran?
Berjalan sendiri terkadang menepi hanya untuk berpikir,
Tidak adakah yang adil di dunia?
Tidak bisakah tuhan memberikan bantuan?
Diam dan kembali terpaku
Ya inilah dunia
Ya inilah realita
Kehidupan kejam yang bahkan membuat takut untuk mengenang
Hanya kenangan kecil yang menyenangkan
Hal yang paling tidak berhasil membuat waras nya pikiran bertahan
Di antara tubuh renta yang malang

Tuesday, October 2, 2018

Beban

Ia menatap nyalang pantulannya di kaca
Berharap orang lain dapat mengerti dan membaca
Apa isi pikiran yang membebaninya?
Apa asa yang terpendam dalam dirinya?
Selalu ia turun dari bus seraya menunduk
Berjalan linglung hingga terduduk
Ia berfikir bahwa hidupnya harus berakhir
Tak sanggup untuk memenuhi ekspektasi orang lain
Terus merunduk menutup muka dari semua orang
Sejujurnya ia takut
Takut setelah mendengar pendapat orang lain tentang dirinya
Takut karena orang lain menilai tanpa mengenalnya
Takut karena banyak omongan buruk tentangnya
Ia merasa tak kuat untuk bertahan
Bertahan dari segala beban yang harus ia pikul
Berkutat dengan semua beban yang menghantuinya
Mereka tidak mengerti
Mereka tidak tahu
Ia mencapai titik terendahnya
Ia mencapai di ambang batasnya
Mungkin dalam beberapa hari ia hanya akan berkata satu kalimat
Selama tinggal

Pulang

Derap langkah berdengung di sepanjang lorong
Diikuti kawanan serigala yang terus melolong
Semakin ku rasakan dinginnya malam menusuk tulang
Namun tak dapat menahan langkah ini untuk pulang
Sudah jauh aku berlari mencari tempat kembali
Sudah banyak cara yang aku akali
Kian larut kian linglung arah tujuanku
Akhirnya kusadar saat diriku terpaku
Rumah yang ku anggap tak kembali terbuka
Berbalik menampar dan menambah duka
Bersama dengan rasa yang pernah ada
Aku mundur berkata sampai jumpa

Tuesday, July 24, 2018

India, Indonesia, dan Kemerdekaan

Indonesia resmi mem-proklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, namun rintangan untuk merasakan arti merdeka bagi bangsa ini tetap saja berdatangan dari beberapa pihak. Dalam perjuangannya melawan pihak kontra, Indonesia harus memastikan posisinya di dunia Internasional terlebih dahulu. Maka dari itu berbagai usaha diplomasi dilakukan Indonesia mulai dari negara tetangga hingga negara lain yang jaraknya jauh dari Indonesia guna mendapat simpati dari negara lain.

Salah satu negara yang mau membantu Indonesia adalah negara India. Hubungan diplomasi Indonesia dan India dimulai dari keputusan pemerintah Indonesia pada April 1946 berupa pengiriman bantuan beras kepada India. Hal ini dilakukan dalam upaya menanggulangi bencana kelaparan yang terjadi di India. Kesepakatan yang terjalin adalah Indonesia akan mengirim 500.000 ton beras kepada India. Sebagai balasan terhadap Indonesia, India sepakat mengirimkan bahan pakaian, obat-obatan, dan alat-alat pertanian yang sulit di peroleh di Indonesia karena adanya blokade ekonomi oleh Belanda.

Hubungan antara Indonesia dan India makin terjalin erat. Rasa percaya India ditandai dengan diizinkannya Indonesia untuk mendirikan perwakilan di New Delhi. Pada bulan Maret-April 1947, diadakan Konferensi New Delhi (Inter-Asian Relations Confrence) yang makin membuka jalur pendekatan Indonesia dengan negara-negara lain. Bagi Indonesia, konfrensi tersebut adalah kesempatan baik untuk mendapat dukungan dalam menghadapi Belanda.

Setelah konferensi, pada 31 Juli 1947, India dan Australia mengajukan masalah Indonesia dan Belanda ke PBB yang langsung di respon pada 1 Agustus 1947 bahwa konflik tersebut harus segera diselesaikan melalui arbitrase. Namun Belanda malah menentangnya dan langsung melakukan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948. Aksi ini menuai protes dari banyak negara dan menjadi alasan diadakannya Konferensi Asia di New Delhu pada 20-25 Januari 1949. Bertujuan khusus untuk membahas Agresi Militer Belanda II, hasil konferensi tersebut menuntut adanya gencatan senjata dan pengembalian ibu kota Indonesia ke Yogyakarta.

Rasa simpati India terhadap Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya diwujudkan dalam bentuk bantuan moral dan material. Hubungan dan kedekatan yang terjalin antara India dan Indonesia bukan sesuatu yang baru karena telah terjalin berabad-abad sebelumnya melalui perdagangan Internasional. Hubungan yang telah berumur panjang tersebut terjadi salah satunya karena Indonesia dan India memilik tujuan yang sama, yaitu berupaya membebaskan negara dari penjajah.

Friday, February 16, 2018

Bimbang

Sekilas rindu ku ucap pada satu lelaki
Setetes air mata ku hapus karena satu lelaki
Di saat semua orang berfikir betapa kejamnya dunia,
Apa aku salah berfikir betapa kejamnya diriku?
Ku adu rasa
Ku coba bermain
Apakah salah saat aku ingin keduanya?
Apakah salah saat aku memeluk erat tidak melepaskannya?
Berbagai nasihat lalu lalang tanpa arti
Kudengar tanpa menyimpan di hati
Seribu maaf atas kebodohan ku ini
Seribu penyesalan atas keserakahan ku ini
Aku tau ini sudah terlambat,
Segala kenangan telah tertutup bersama hilangnya senja

Thursday, January 25, 2018

Tuanku

Tuanku tidak pernah adil, ia selalu meninggalkanku dengan sakit saat berjalan hingga tanda pada semua tubuhku.
Tuanku tidak pernah peduli, ia selalu mengunciku dari dunia luar dan memaksaku melakukan kemauaannya tanpa lelah.
Tuanku tidak pernah sabar, ia selalu memaki saat aku salah bahkan menghukum saat aku mengucap sepatah kata.
Tuanku tidak pernah senang, ia selalu marah mendengar panggilan itu juga membuatku harus memohon hingga berlutut.
Sudah ku bilang tuanku itu tidak menyukaiku, kecuali di saat aku menuruti semua ketetapannya.
Sudah ku bilang ia hanya bahagia menindas orang seperti ku, kaum lemah yang buta karena memilihnya.